Saturday, July 31, 2010

Teachers too soft on students?

Gone are the days when children were afraid of telling their parents about the punishment they received in school, for fear of being scolded at home. Many teachers today are loathe to punish students for fear of retaliation from parents and students themselves. Is this why students are more indisciplined these days?

MANY years ago, there used to be pin-drop silence in classrooms on report card day. Today, teachers and parents struggle to hear each other over the chaos caused by noisy students. Teachers don't do much except say, "keep quiet!" and this, too, is usually ignored.

Somewhere along the way, the tables have turned. Are our school teachers adopting a more relaxed attitude?

The method of disciplining now is different, acknowledges the National Union of the Teaching Profession.

Its president, Hashim Adnan, says: "There is no such punishment as standing on the chair any more. What if the child falls? What happens if a child starts vomiting after he or she is made to run around the school field?

"Among the thousands, one or two may use the old method of pulling the ears, but the younger teachers don't do this any more.

"During staff meetings, teachers are told not to touch the students. If there is a problem, it should be the principal who handles things. This is the usual advice, especially to new male teachers who may get angry very fast. Students can be corrected verbally without using harsh words."

He says proper guidelines should be followed when disciplining students.

"The rules may differ from one school to another. Basically, teachers can take action but they must follow the rules. For instance, girls are not to be hit with the rod. Boys who have disciplinary problems should be warned a few times and their parents consulted. If there are still problems, they can be caned in the headmaster or discipline master's room, but never in public."

Teachers and principals, Hashim says, should take record of all warnings.

"The police have their guidelines. The first thing that will be asked if there is a complaint is whether the school has followed the step-by-step rulings."

Retired teachers say the method of disciplining now is different for a number of reasons. Sabbir Ali Hussin, 62, says the current system does little to support teachers.

"If a teacher takes action against a child who has misbehaved, there is usually someone who files a complaint, resulting in the teacher being demoralised. Discipline has not deteriorated over the years, but interference from outside has increased. That's why some teachers have adopted a tidak apa (don't care) approach.

"Teachers are also under a lot of pressure. Most teachers have to move between six classes of 40 students each, that is a total of 240 different minds to handle. Some schools have over 3,000 students. How do you control that?

"There needs to be a separate department to handle registration and disciplinary issues. A teacher's task is to impart knowledge, not to stand at the front gate to catch students who come late or penalise those who are not wearing name tags."

Retired school principal William Doraisamy says problems in schools have not changed, but the nature of discipline has.

"Normal offences such as stealing, gangsterism, cheating during exams, destroying property, truancy and distribution of porn have been around for decades, but now it's more widespread.

"Students are indisciplined in a more sophisticated way. Their minds and hearts have not changed, but they have become bolder."

He says there are many factors contributing to this and the problem is "almost irreparable".

"The social scenario in schools is evolving. Everything is exam-oriented, sometimes at the expense of discipline. Many teachers focus their attention on academic results instead of moral values. Often, discipline is left to the disciplinary board when it should be the duty of every teacher."

Parents, media and the Internet, he says, are also partly to blame for the rise in school disciplinary problems.

"Many parents have neglected teaching their children the importance of social etiquette. Children are not taught to respect their elders or property, causing many to be rebellious.

"There is also an increasing number of parents who criticise teachers in front of their children. Calling teachers bodoh (stupid) causes children to lose respect for teachers. Many websites and television programmes don't teach good values. As a result, children are more boisterous and answer back."

If this is so, should discipline methods be more "harsh"?

Counsellor Major Tarlochan Singh believes that the emotional well-being of a child should always be taken into account.

"I believe punishment should be based on the severity of the problem. Caning should only be carried out if the child has done something really bad.

"Furthermore, parents should be notified based on proof and they must be informed of the type of punishment. I believe that punishment should be done in a controlled environment. Done by correct people and in the right setting, the punishment will be accepted by the child and parents."

Read more: Teachers too soft on students?


"Relaxing" teacher will influence attitude among student, can not be denied again because students today do not respect their teachers more.

For potential teachers, take the mental and physical to be a teacher..

Wednesday, July 28, 2010

Kadang kala kita alpa..

Kealaman dengan segala kerahsiaan

dan kedirian dengan segala kerahsiaannya itu

menunjangkan suatu ikatan yang amat akrab

dan sukar dipisahkan..

tidak ubah seperti..

gula dengan kemanisannya,

garam dengan kemasinannya,


seruntun dengan kepahitannya..

Kedua-duanya bukan sahaja tidak dapat direnggangkan

sampai bila-bila

tetapi juga..

akan sebati menjadi satu

diri adalah alam..

alam adalah diri..

tanah yang menumbuhi benih


yang sering kita henyak dengan kaki kita sendiri


kaya dengan cacing-cacing itu

adalah juga elemen diri kita


merupakan warisan kita


asal usul kita


juga akhirnya kita

akan kembali kepada....




Sahabat : Antara memimipin atau menghancurkan..atau saling menghancurkan

Pasangan hidup : Antara membimbing atau membinasakan..atau saling membinasa.

Saturday, July 24, 2010

Hensem vs Tidak Hensem

Kalau lelaki handsome pendiam
Perempuan akan cakap = woow,cool giler...

kalau lelaki tak handsome pendiam
Perempuan akan cakap = eh eh perasan bagus...

kalau lelaki handsome berbuat jahat
Perempuan akan cakap = nobody's perfect

kalau lelaki tak handsome berbuat jahat
Perempuan akan cakap = memang....muka pun macam pecah rumah!

kalau lelaki handsome menolong
Perempuan yg diganggu
perempuan akan cakap = wah..machonya..macam hero filem!

kalau lelaki tak handsome menolong perempuan yang diganggu
Perempuan akan cakap = entah2 kawan dia...

kalau lelaki handsome dapat perempuan cantik
Perempuan akan cakap = sepadan sangat...

kalau lelaki tak handsome dapat perempuan cantik
Perempuan akan cakap = mesti kena bomoh perempuan tuh!

kalau lelaki handsome ditinggal kekasih
Perempuan akan cakap = jangan sedih, kan saya ada..

kalau lelaki tak handsome ditinggal kekasih
perempuan akan cakap = ...(terdiam, tapi telunjuknya meliuk-liuk dari atas ke bawah,patutlah, tengok saja luarannya).

kalau lelaki handsome penyayang binatang
perempuan akan cakap = perasaannya halus...penuh kasih sayang

kalau lelaki tak handsome penyayang binatang
perempuan akan cakap = sesama keluarga memang harus menyayangi...

kalau lelaki handsome bawa BMW
perempuan akan cakap = matching...hebat luar dalam

kalau lelaki tak handsome bawa BMW
perempuan akan cakap = bang, bosnya mana?...

kalau lelaki handsome tak mau bergambar
perempuan akan cakap = pasti takut kalau2 gambarnya tersebar

kalau lelaki tak handsome tak mau bergambar
perempuan akan cakap = tak sanggup melihat hasilnya ya?...

kalau lelaki handsome menuang air ke gelas perempuan
perempuan akan cakap = ini barulah lelaki gentlemen

kalau lelaki tak handsome menuang air ke gelas perempuan
perempuan akan cakap = naluri pembantu, memang begitu....

kalau lelaki handsome bersedih hati
perempuan akan cakap = let me be your shoulder to cry on

kalau lelaki takhandsome bersedih hati
perempuan akan cakap = kuat nangis!! lelaki ke bukan ni

**Diambil dari sesawang sembang forum pelajar IPG.


Fakta ataupun tidak, sudah menjadi lumrah alam manusia mengukur manusia berdasarkan rupa.

Jejaka yang berasa mereka hensem akan mempunyai keyakinan yang tinggi, berbanding dengan yang merasakan diri mereka tidak hensem. Begitu juga dalam kes wanita.

Lazimnya wanita yang perasan mereka cantik akan membina kumpulan mereka yang tersendiri dan tidak bercampur dengan mereka yang kurang cantik (berdasarkan pemerhatian di sekolah)manakala si Lelaki yang perasan hensem pula akan mempunyai sifat riak untuk menonjolkan teman wanita mereka yang kononnya cantik.

lalu untuk kita renungkan..apalah sangat dengan rupa kita di dunia ini..

cantikkah kita?hensemkah kita? tidak hensemkah kita semuanya sudah ditetapkan oleh Allah s.w.t kerana kita tidak layak memilihnya. kita juga tidak layak untuk memilih siapa ibu bapa kita sebelum lahir ke dunia.

Lalu untuk apa kita dibezakan antara cantik dan hodoh? antara hensem dan tidak hensem..

semuanya adalah sama..iaitu tidak berkekalan sebaliknya nikmat "rupa" ini akan ditarik balik satu masa nanti.

Jika kita dikurniakan rupa yang hensem/cantik maka bersyukurlah dan jika tidak sekalipun..bersabarlah.

Allah Maha Adil. Sesuatu perkara tidak akan dijadikan dengan sia-sia..

cantik pada muka tapi buruk pada perangai pun tiada gunanya.
hensem pada muka tapi buruk pada agama pun lagi teruknya.

kepada yang kurang@tidak hensem/cantik di luar sana, kita tidak usahlah lagi merendah diri dalam melalui kehidupan sehari-hari yang mendatang.

Kita jgan pedulikan apa manusia fikir, mereka tidak layak mengadili kita..

sebaliknya kita fikir apa yang Allah akan berikan pada kesabaran kita nanti..


Thursday, July 15, 2010

Petrol naik 5 sen, gula 25 sen

*Harian Metro Online*


PUTRAJAYA: Kabinet hari ini mengumumkan pelarasan harga petrol RON95 dan diesel akan meningkat lima sen setiap liter mulai esok manakala harga petrol RON97 akan diapungkan berikutan penyelarasan harga subsidi yang diumumkan kerajaan hari ini.

Sementara gula aakan dijual pada harga RM1.90 sekilogram mulai esok berikutan pelarasan subsidi sebanyak 25 Sen.


Setiap orang harus dan mesti tahu kesan gula yang banyak negatif dari positif. Harga makin naik tapi kita pun makin banyak guna. Langkah terbaik kurangilah penggunaan gula dalam kehidupan. Dari kita hendak merungut dan ber"demonstransi" tentang kenaikan harga barang, hanya penat kita dapat.. Baik duduk rumah lagi bagus. Orang kita ini suka merungut, tidak suka bersyukur bukan?

tapi yang tidak bagusnya ialah :

Perkara berkaitan petrol memang sensitif kerana petrol merupakan keperluan utama untuk berjuta-juta kenderaan di Malaysia. Kesan kenaikan ini berlaku juga pada diri terutamanya semester ini kelas begitu banyak dan kerap di Proton City. Alamak larilah bajet untuk minyak sahaja..belum lagi kos2 lain. Ahli-Ahli Parlimen Malaysia yang bodoh sombong akan berkata "kenaikan ini tidak akan meyusahkan rakyat"..

"Tidak menyusahkan rakyat"?

Fikir2kanlah sendiri apabila boleh berfikir.


Tuesday, July 13, 2010

Mahasiswa Dan Hedonisme

* Muzik & lagu,

* Konsert & artis,

* Permainan berkomputer & Playstation,

* Friendster & Facebook,

* Video & DVD,

* Majalah & blog hiburan,

* MP3 & Youtube,

* Pesta & keramaian,

dan pelbagai lagi perkara seumpamanya.

Semuanya nampak ‘familiar’ bukan? Majoriti daripada mahasiswa berada dalam usia remaja, semua yang disenaraikan di atas seakan sinonim dengan kita semua. Malah senarai seumpamanya mungkin lebih panjang. Cuba perhatikan, apa ciri-ciri yang tersurat dan tersirat dari senarai di atas. Hiburan, ‘entertainment’, santai dan sebagainya adalah nama yang diletakkan untuk menyatakan perilaku di atas. Namun kesemua di atas boleh dirangkumi dalam kelompok sosial yang dipanggil ‘hedonisme’.

‘Hedonisme’ - Apakah dia sebenarnya.

Kamus Dewan mendefinisikan hedonisme sebagai ‘pegangan atau pandangan hidup yang mementingkan kesenangan hidup’. Secara umumnya, hedonisme adalah ‘pendekatan sosial yang menjadikan hiburan sebagai satu cara hidup’. Sebagaimana ‘isme-isme’ yang lain seperti sekularisme, nasionalisme, komunisme, sosialisme dan lain-lain, ‘isme’ itu menggambarkan pegangan dan cara hidup. Mereka yang terjebak dengan hedonisme mengikat diri mereka dengan hiburan sebaik celik mata hinggalah menutup mata.

Kita semua menyedari bahawa Islam itu syumul, lengkap dan menyeluruh. Islam tidak hanya ditafsirkan dari sudut ibadah dan ritual semata-mata. Islam itu Ad-Deen. Islam itu sebagai cara hidup. Lengkap dari pelbagai sudut dan aspek. Sebagai seorang Islam, mengapa harus menerima pakai ‘isme-isme’ yang lain.

Bagi mereka yang cenderung kepada hedonisme, hidupnya diwarnai dengan hiburan. Pagi beralih ke tengah hari, senja menyongsong petang, malam semakin pekat - hiburan demi hiburan menjadi peneman. Dari tv, radio, perisian komputer, aplikasi internet hinggalah ke buku dan majalah, semuanya berbaur hiburan. Sebagai seorang Islam, apatah lagi berada dalam status sebagai mahasiswa yang berpengetahuan, tidak sukar untuk membezakan yang mana yang dinisbatkan sebagai hedonisme dan mana yang tidak.

Diakui, lahiriah manusia amat gemar kepada hiburan dan perayaan. Menjadi norma setiap bangsa dan agama di dunia mempunyai perayaan-perayaannya yang tersendiri. Lazimnya perayaan ini diiringi dengan pesta dan keramaian. Pelbagai jenis hiburan dipertontonkan. Tataan tarian, nyanyian dan iringan muzik dipersembahkan. Malah ada sesetengahnya yang melangkaui lebih jauh dari itu. Tidak cukup dengan halwa lidah dan halwa telinga, nafsu para hadirin dijamu dengan tubuh dan badan. Na ‘au’zubillah.

Berbeza dengan Islam, Allah Ta’ala mensyariatkan agar umat Islam merayakan Hari Raya Aidilfitri dan Hari Raya Aidiladha. Perayaan-perayaan ini mempunyai hikmah dan pengertian yang tersendiri selaras dengan tuntutan agama dan bukannya menurut hawa nafsu. Malah di dalam buku-buku yang menerangkan tentang hukum fekah, jelas diterangkan jenis hiburan dan jenis alat muzik yang dibenarkan dalam Islam. Ini jelas menunjukkan betapa agama Islam turut memberikan ruang dan peluang untuk para penganutnya berhibur asalkan tidak ‘lagha’ (lalai) dan bertentangan dengan hukum syarak.

Hedonisme - Jarum Terhalus Zionis

Menyorot semula sejarah permulaan keruntuhan moral masyarakat moden, titik hitamnya bermula dengan wujudnya Protokol Zionis. Kata sepakat dicapai oleh cendekiawan dan pemikir bangsa Yahudi dalam Kongres yang dipengerusikan oleh Theodor Hertzl. Kongres ini berlangsung di Basel, Switzerland pada 1897. Selama lebih dari 113 tahun lamanya, bangsa Yahudi melaksanakan kesemua 24 protokol yang turut dikenali sebagai ‘The Protocols of Learned Elders of Zion’ dengan perancangan dan pelaksanaan yang teliti. Setiap protokol mempunyai pelan khusus pelaksanaannya yang hanya diketahui oleh orang-orang yang menganggotai Freemason dan Iluminati. Kedua-duanya adalah organisasi hitam yang menjadi hujung tombak golongan Zionis.

Lalu apa kaitannya antara Protokol Yahudi dengan hedonisme? Penerangan tentang Protokol Kesepuluh dapat memberikan jawapan kepada persoalan di atas. Ia dicatatkan antaranya sebagai berikut:-

‘Pemikiran liberalisme akan ditanam dalam minda pemimpin negara-negara bukan Yahudi. Akibatnya kestabilan politik menjadi goyang dan pilihanraya dapat diatur. Kemenangan akan disusun agar pemimpin-pemimpin yang cenderung kepada Zionis akan beroleh kemenangan. Maka semua perancangan Yahudi akan dapat dilaksanakan olehnya’.

Protokol kesepuluh, telah diterjemahkan pelaksanaannya dan didakwa oleh sesetengah pihak sebagai elemen-elemen yang menyokong dan melicinkan penyerapan doktrin hedonisme dalam masyarakat. Terdapat lapan perkara yang diterapkan agar menjadi budaya dalam kalangan orang-orang bukan Yahudi. Lapan perkara ini diakronimkan dengan ‘4S & 4F’. Song, seks, smoke (rokok) dan sport dikelompok dalam 4S manakala fun (hiburan)’, female (perempuan), fashion, dan food. Semuanya ditujukan khusus untuk anak-anak muda dan remaja yang menjadi generasi pelapis umat. Hasil dari peranan media massa yang dikuasai oleh golongan Zionis ini maka kesemua perkara ini seolah-olah menjadi budaya moden di seluruh dunia. Kemajuan sesebuah masyarakat diukur dari segi keterbukaan masyarakat menerima dan mengasimilisasikan kesemua 4S & 4F ini.

Mungkin pada mata kasar mahasiswa sekalian, 4S & 4F ini adalah perkara biasa yang telah menjadi realiti dalam masyarakat Malaysia. Ia telah bertapak bertahun-tahun lamanya dalam masyarakat Malaysia. Maka, mungkin timbul pertanyaan di hati kita :-

* 4S & 4F, takkan tak biasa kot?”

* “Patutkah kita meminggirkannya?”

* ”Bukankah ia telah menjadi sebahagian dari kehidupan kita?”

Jika persoalan-persoalan ini timbul difikiran kita, maka percayalah bahawa matlamat Protokol Kesepuluh ini telah mengakar umbi dalam kehidupan kita tanpa disedari. Cuba kita bayangkan anak-anak muda Islam hanyut dalam dunia hiburan. Tidak cukup penyanyi dan pemuzik dipuja-puja, ramai pula yang berangan-angan dan berusaha untuk menjadi sebahagian darinya. Lagu-lagu digubah untuk menaikkan nama dan imej.

Pelbagai fesyen direka agar kelihatan lain dari yang lain. Rokok sentiasa tersepit di bibir atau dikepit di jari. Promosi-promosi pun berlangsung agar ia menjadi ikutan. Cerita-cerita panas tentang hubungan cinta berlandaskan nafsu dan berbentuk zina dihebohkan. Masing-masing merelakan diri menjadi bahan gossip. Bercinta pun heboh, berkahwin biar lebih ‘glamour’ dari yang lain dan bercerai-berai biar lagi kecoh. Lebih panas lebih hebat. Wartawan-wartawan diupah untuk memanaskan keadaan. Untuk tidak nampak ketinggalan dan dianggap kolot, makanan Barat dijamah dan arak diteguk. Pub dan disko dikunjungi. Lebih ‘power’ jika terlibat dengan najis dadah. Hidup berselubung dengan maksiat. Namun ini adalah realiti dalam dunia hiburan dan dunia sukan.

Para peminat yang rendah akal ternganga dan melopong melihat betapa gah, glamour dan terkenalnya artis dan ahli sukan pujaan. Gambar, cerita dan berita sensasi mengenai kehidupan mereka dipaparkan di televisyen, majalah, blog dan suratkhabar. Hidup mereka digambarkan sebagai moden, kontemporari dan mewah. Maka ramailah terpengaruh untuk mengikut jejak langkah mereka. Bagi remaja dan anak-anak muda, tidak dapat jadi artis dan ahli sukan pun, dapat meniru fesyen mereka pun jadilah. Maka kesan protokol Yahudi yang kesepuluhs ini berjaya sampai ke ruang tamu rumah kita tanpa disedari.

Untuk menjelaskan lagi betapa pentingnya hedonisme ini menjadi urat nadi manusia, Yahudi Zionis memberi penekanan sekali lagi sebagaimana yang terkandung dalam Protokol Ke-13 yang antara lain bermaksud seperti berikut:-

‘Untuk menjahanamkan dan meruntuhkan sesebuah bangsa dan negara, bangsa Yahudi mestilah menghapuskan golongan intelek dan cediakawan bukan Yahudi. Golongan ahli perniagaan harus turut dimufliskan dengan melaga-lagakan dan mewujudkan persaingan kotor yang menghancurkan penguasaan mereka. Pesta-pesta pelbagai bentuk, hiburan dan keramaian harus dicipta dan dirayakan. Penganjurannya haruslah diwar-warkan untuk kelihatan berprestij dan meriah. Semua ini penting agar kekayaan negara-negara bukan Yahudi dihabiskan untuk penganjurannya. Orang bukan Yahudi harus dialihkan & dilumpuhkan keupayaan mereka berfikir. Ketajaman fikiran mereka harus dipesongkan dengan asakan hiburan, pertandingan sukan, penganjuran pesta kebudayaan, keasyikan karya-karya kesenian dan pelbagai pertandingan lain. Permusuhan harus disemai hasil dari persaingan kotor dan tidak sihat’.

Lalu, apakah tindakan kita?

Mahasiswa sekalian boleh melihat dan memahami dengan jelas, semua perancangan dan pelan pelaksanaan yang dirangka oleh Yahudi Zionis. Semuanya telah menjadi budaya dan sebahagian dari denyut nadi masyarakat hari ini. Apakah tindakan yang harus dilaksanakan? Patutkah kita menongkah dan menentang arus atau memilih untuk berpeluk tubuh mendiamkan diri. Atau mungkin lebih malang, ikut hanyut bersama gejala-gejala yang sungguh merosakkan ini.

Asas utama untuk bertindak adalah dengan menyedarkan diri sendiri, keluarga, rakan-rakan dan orang-orang yang kita kasihi. Ambillah langkah pertama dengan menjauhkan diri sedikit demi sedikit dari cengkaman budaya hedonisme. Jauhkan diri dari membeli dan mengikuti berita-berita yang bersifat hiburan. Jauhkan diri dari terikut-ikut dengan fesyen terkini dan bermusim sifatnya. Jauhkan diri dari rokok dan perkara-perkara yang seumpamanya. Mungkin timbul persoalan, apakah alternatif selain dari hiburan?

Jawapannya cukup mudah Islam telah lama menyediakan jalan hiburan yang bersesuaian. Malah hiburan yang paling menarik dan berterusan sifatnya adalah penerokaan ilmu. Ia sesuai dengan realiti kehidupan mahasiswa. Jadikan penerokaan ilmu dalam pelbagai bidang ini sebagai satu budaya. Habiskan waktu yang ada dengan mempelajari ilmu, memperkembangkannya dan menyebarkannya sejauh dan semampu yang boleh. Bentukkanlah peribadi, ketrampilan dan gandingkan amal ibadat dengan ilmu. Jadikan diri anda seorang da’i. Berusahalah untuk mencapai tahap ‘murabbi’.

Lakukan ini dengan niat ikhlas kerana Allah Ta’ala. Percayalah mahasiswa sekalian. Ia sangat bermanfaat. Di dunia dengan izin Allah Ta’ala, anda akan beroleh penghormatan dari orang lain dan menjadi sumber rujukan. Di alam barzakh ia menjadi bekalan yang tidak putus-putus dan menjadi sandaran untuk anda mengetuk pintu syurga yang kekal dan abadi. Insya Allah.

Oleh: Hj. Muhammad Fauzi Khalid (Blog Penyuburan Islam UPSI).

Semoga kita akan dapat petunjuk baru di dalam kehidupan dan semua ini berlaku dengan Izin-Nya.


Tuesday, July 6, 2010

"Ayah! saya dah bersedia..."

Pada setiap Jumaat, selepas selesai menunaikan solat Jumaat, seorang Imam dan anaknya yang berumur 7 tahun akan berjalan menyusuri jalan di kota itu dan menyebarkan risalah bertajuk "Jalan-jalan Syurga" dan beberapa karya Islamik yang lain.

Pada satu Jumaat yang indah, pada ketika Imam dan anaknya itu hendak keluar seperti biasa meghulurkan risalah-risalah Islam itu, hari itu menjadi amat dingin dan hujan mulai turun.

Anak kecil itu mula membetulkan jubahnya yang masih kering dan panas dan seraya berkata "Ayah! Saya dah bersedia"

Ayahnya terkejut dan berkata "Bersedia untuk apa?". "Ayah bukankah ini masanya kita akan keluar menyampaikan risalah Allah"

"Anakku! Bukankah sejuk keadaan di luar tu dan hujan juga agak lebat"

"Ayah bukankah masih ada manusia yang akan masuk neraka walaupun ketika hujan turun"

Ayahnya menambah "Ayah tidak bersedia hendak keluar dalam keadaan cuaca sebegini"

Dengan merintih anaknya merayu "Benarkan saya pergi ayah?"

Ayahnya berasa agak ragu-ragu namun menyerahkan risalah-risalah itu kepada anaknya "Pergilah nak dan berhati-hatilah. Allah bersama-sama kamu!"

"Terima kasih Ayah" Dengan wajah bersinar-sinar anaknya itu pergi meredah hujan dan susuk tubuh kecil itu hilang dalam kelebatan hujan itu.

Anak kecil itu pun menyerahkan risalah-risalah tersebut kepada sesiapa pun yang dijumpainya. Begitu juga dia akan mengetuk setiap rumah dan memberikan risalah itu kepada penghuninya.

Setelah dua jam, hanya tinggal satu saja risalah "Jalan-jalan Syurga" ada pada tangannya. DIa berasakan tanggungjawabnya tidak akan selesai jika masih ada risalah di tangannya. Dia berpusing-pusing ke sana dan ke mari mencari siapa yang akan diserahkan risalah terakhirnya itu namun gagal.

Akhirnya dia ternampak satu rumah yang agak terperosok di jalan itu dan mula mengatur langkah menghampiri rumah itu. Apabila sampai sahaja anak itu di rumah itu, lantas ditekannya loceng rumah itu sekali. Ditunggunya sebentar dan ditekan sekali lagi namun tiada jawapan. Diketuk pula pintu itu namun sekali lagi tiada jawapan. Ada sesuatu yang memegangnya daripada pergi, mungkin rumah inilah harapannya agar risalah ini diserahkan. Dia mengambil keputusan menekan loceng sekali lagi. Akhirnya pintu rumah itu dibuka.

Berdiri di depan pintu adalah seorang perempuan dalam lingkungan 50an. Mukanya suram dan sedih. "Nak, apa yang makcik boleh bantu?"

Wajahnya bersinar-sinar seolah-olah malaikat yang turun dari langit.

"Makcik, maaf saya mengganggu, saya hanya ingin menyatakan yang ALLAH amat sayangkan makcik dan sentiasa memelihara makcik. Saya datang ini hanya hendak menyerahkan risalah akhir ini dan makcik adalah orang yang paling bertuah". Dia senyum dan tunduk hormat sebelum melangkah pergi.

"Terima kasih nak dan Tuhan akan melindungi kamu" dalam nada yang lembut.

Minggu berikutnya sebelum waktu solat Jumaat bermula, seperti biasa Imam memberikan ceramahnya. Sebelum selesai dia bertanya "Ada sesiapa nak menyatakan sesuatu"

Tiba-tiba sekujur tubuh bangun dengan perlahan dan berdiri. Dia adalah perempuan separuh umur itu. "Saya rasa tiada sesiapa dalam perhimpunan ini yang kenal saya. Saya tak pernah hadir ke majlis ini walaupun sekali. Untuk pengetahuan anda, sebelum Jumaat minggu lepas saya bukan seorang Muslim.

"Suami saya meninggal beberapa tahun lepas dan meninggalkan saya keseorangan dalam dunia ini" Air mata mulai bergenang di kelopak matanya.

"Pada Jumaat minggu lepas saya mengambil keputusan untuk membunuh diri. Jadi saya ambil kerusi dan tali. Saya letakkan kerusi di atas tangga menghadap anak tangga menuruni. Saya ikat hujung tali di galang atas dan hujung satu lagi diketatkan di leher. Apabila tiba saat saya untuk terjun, tiba-tiba loceng rumah saya berbunyi. Saya tunggu sebentar, pada anggapan saya, siapa pun yang menekan itu akan pergi jika tidak dijawab. Kemudian ia berbunyi lagi. Kemudian saya mendengar ketukan dan loceng ditekan sekali lagi".

"Saya bertanya sekali lagi. Belum pernah pun ada orang yang tekan loceng ini setelah sekian lama. Lantas saya melonggarkan tali di leher dan terus pergi ke pintu"

"Seumur hidup saya belum pernah saya melihat anak yang comel itu. Senyumannya benar-benar ikhlas dan suaranya seperti malaikat".

"Makcik, maaf saya mengganggu, saya hanya ingin menyatakan yang ALLAH amat sayangkan
makcik dan sentiasa memelihara makcik" itulah kata-kata yang paling indah yang saya dengar".

"Saya melihatnya pergi kembali menyusuri hujan. Saya kemudian menutup pintu dan terus baca risalah itu setiap muka surat. Akhirnya kerusi dan tali yang hampir-hampir menyentap nyawa saya diletakkan semula ditempat asal mereka. Aku tak perlukan itu lagi".

"Lihatlah, sekarang saya sudah menjadi seorang yang bahagia, yang menjadi hamba kepada Tuhan yang satu ALLAH. Di belakang risalah terdapat alamat ini dan itulah sebabnya saya di sini hari ini. Jika tidak disebabkan malaikat kecil yang datang pada hari itu tentunya roh saya ini akan berada selama-lamanya di dalam neraka"

Tiada satu pun anak mata di masjid itu yang masih kering. Ramai pula yang berteriak dan bertakbir ALLAHUAKBAR!

Imam lantas turun dengan pantas dari mimbar lantas terus memeluk anaknya yang berada di kaki mimbar dan menangis sesungguh-sungguh hatinya.

Jumaat ini dikira Jumaat yang paling indah dalam hidupnya. Tiada anugerah yang amat besar dari apa yang dia ada pada hari ini. Iaitu anugerah yang sekarang berada di dalam pelukannya. Seorang anak yang seumpama malaikat.

Biarkanlah air mata itu menitis. Air mata itu anugerah ALLAH kepada makhlukNya yang penyayang.


Friday, July 2, 2010

Selamat Datang.....

Sememangnya kelahiran cucu ketiga ini sangat dinanti-nantikan. Setelah memiliki dua orang cucu perempuan, pastinya hendak pula mendapat anak saudara dari jantina lelaki. Namun...

Pada 22/6 lepas lahirlah seorang lagi ahli keluarga kami, yang akan meneruskan perjuangan sebagai hamba dan khalifah Allah kelak seperti kita sebagai manusia pada hari ini.

Siti Nafisah

Kelahiran beliau telah memeriahkan lagi isi rumah yang sememangnya tidak sunyi dengan kehadiran kakak-kakaknya.

Siti Nadzirah dan Siti Najihah

Mereka berdua ini sememangya pantang melihat pakcik-pakcik mereka memegang kunci motor dam kereta, pastinya akan bertenggek di depan dan belakang keran hobi mereka ialah berjalan-jalan.

Suasana rumah akan berasa sunyi jika mereka tidur di rumah atuk sebelah ibu mereka.

Walaupun kami juga menanti kehadiran cucu lelaki yang pertama, tetapi mungkin tiada rezeki untuk Kak Nurul yang keguguran di saat kandungannya baru beberapa minggu disahkan.

Apa-apapun, legasi manusia tetap diteruskan dengan kelahiran bayi baru hari demi hari. Tetapi adakah kita kini semakin melahirkan generasi yang rosak akhlaknya.

Jawapannya ialah Ya kerana majoriti golongan muda hari ini ialah golongan yang mengabaikan tuntutan agama dan menjadikan dunia lebih utama dari akhirat.

Kita fikirkanlah kerana kita punyai mata untuk memerhati.


Bacalah juga

Related Posts with Thumbnails